Rabu, 09 Januari 2019

PKBM NEGERI 32 DUREN SAWIT


LAPORAN OBSERVASI
PENGEMBANGAN DIRI ORANG DEWASA
PKBM NEGERI 32 DUREN SAWIT





Dosen Mata Kuliah:
Adi Irvansyah, M.Pd

Disusun Oleh :
Muhammad Rafly
104618009
Kelas A

PENDIDIKAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA



Abstrak
Bentuk penyelenggaraan pendidikan yang mengutamakan keikutsertaan masyarakat dan dilandasi pemikiran bahwa masyarakat sebagai subyek dalam pengembangan pendidikan salah satunya adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) atau community learning center (CLC). PKBM dimaknai sebagai ” suatu tempat belajar local (setempat) di luar sistem pendidikan formal, baik berada di perdesaan maupun di tempat-tempat lain, biasanya dibangun dan dikelola oleh masyarakat setempat untuk menyediakan berbagai kesempatan belajar bagi pembangunan masyarakat dan peningkatan kualitas hidup (Unesco, 2008). Lahirnya lembaga PKBM didasari oleh gagasan bahwa peningkatan kualitas kehidupan masyarakat baik individu maupun kelompok, dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat dengan mengandalkan kemampuan untuk mengelola berbagai potensi yang dimiliki masyarakat secara mandiri, kreatif dan bermanfaat.
PKBM diharapkan menjadi lembaga yang mampu memberikan layanan kepada masyarakat untuk mengakses berbagai peluang yang ada di luar lingkungannya guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Peluang yang terdapat di masyarakat sangat beragam baik bersifat memberikan keuntungan ekonomi, mengembangkan kemampuan berusaha, mengembangkan kegiatan yang bersifat kesenangan maupun peluang guna memperoleh pengembangan usaha dan peningkatan produk atau jasa yang dihasilkan. Dalam hal ini, PKBM sebagai lembaga yang bergerak dalam pembangunan pendidikan memiliki fungsi strategis yaitu berperan sebagai jembatan atau perantara antara kepentingan individu atau kelompok sasaran dengan masyarakat yang membutuhkan jasa atau produk dari PKBM.






Kata Pengantar

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai dengan yang diharapkan. Saya juga bersyukur atas rizki dan kesehatan yang telah diberikan oleh-Nya sehingga saya dapat menyusun makalah ini.
Laporan ini disusun untuk diajukan sebagai salah satu tugas mata kuliah “Pengembangan Diri Orang Dewasa”
Kami mengakui bahwa  dalam menyusun makalah ini tidak dapat diselesaikan tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.         Drs. Gatot Sriwijatmiko. Selaku kepala lembaga PKBM Negeri 32
2.         Peserta Didik PKBM Negeri 32
Saya menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat dalam laporan hasil observasi ini. Untuk itu penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran dari semua pihak. Semoga laporan ini memberikan informasi bagi pembaca dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.







Daftar Isi
Abstrak.………………………………………………………………………2
Kata Pengantar……………………………………………………………….3
BAB I Pendahuluan
A.Latar Belakang…………………………………………………………….5
B.Maksud dan Tujuan………………………………………………………..6
C. Bentuk Kegiatan…………………………………………………………..7
BAB II Kajian Pustaka
A.Konsep Pendidikan Non Formal…………………………………………..8
B.Konsep PKBM……………………………………………………………13
C.Program Paket C………………………………………………………….14
BAB III Metode Pengumpulan Data
A.Wawancara…………………………………………………………….....16
B.Observasi………………………………………………………………....16
BAB IV Hasil Kajian dan Pembahasan
A.Profil Responden……………………………………………………........17
B.Pembahasan………………………………………………………………20
BAB V Penutup
A.Kesimpulan………………………………………………………………28
B.Saran……………………………………………………………………...28
Daftar Pustaka………………………………………………………...29
Dokumentasi………………………………………………………….30




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dewasa ini perkembangan dunia yang begitu pesat menjadikan kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat. Namun, pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang masih belum mengenyam pendidikan formalnya, entah hal tersebut dikarenakan rendahnya tingkat ekonomi masyarakat, rendahnya tingkat kesadaran masyarakat akan pendidikan dan juga terjadinya hal-hal insidental yang tidak diharapkan terjadi seperti hamil pranikah. Kebutuhan akan pendidikan sangatlah penting diharapkan dengan adanya masyarakat yang mengenyam pendidikan akan menjadikan suatu negera menjadi negara yang lebih baik.
Pendidikan menurut Ibnu Khaldun (dalam Ariyanto) adalahtransformasi nilai-nilai dari pengalaman untuk mempertahankan eksistensi manusia dalam masyarakat yang berkebudayaan serta zaman yang terus berkembang, maka pendidikan sebagai suatu proses untuk mewujudkan suatu masyarakat yang berkebudayaan serta masyarakat yang seutuhnya.Berdasarkan pemaparan Ibnu Khaldun yang mengartikan bahwa maju mundurnya suatu bangsa
ditentukan oleh tingkat pendidikan masyarakat di suatu negara itu sendiri.
Dapat kita lihat berapa banyak angka putus sekolah dari setiap jenjang pendidikan, baik dari jenjang pendidikan dasar maupun menengah. Oleh karena itu untuk memaksimalkan pelayanan pendidikan untuk masyarakat yang ada di Indonesia maka pelaksanaan pendidikan tidak hanya pada pendidikan formal saja, melainkan pendidikan non formal dan informal. Pendidikan Non formal itu sendiri menurut Undang-undang Sisdiknas tahun 2003 pasal 1 ayat 12 “Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang sedangkan ayat 13 menyatakan “Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Berdasarkan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional dikatakan bahwa fungsi PNF adalah mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan ketrampilan fungsional serta mengembangkan sikap dan kepribadian professional. Dengan kata lain Pendidikan Non Formal merupakan sebuah pendidikan alternatif bagi mereka yang terkendala dalam memperoleh pendidikan jalur formal. Hal ini sesuai dengan tujuan PLS yang ada dalam PP 73 tahun 1991, yaitu membina warga belajar agar memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah atau melanjutkan ketingkat atau jenjang yang lebih tinggi serta memenuhi kebutuhan belajar masyarakt yan tidak dapat dipenuhi dalam jalur pendidikan sekolah. 

B.     Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dari observasi makalah ini adalah untuk:
1.      Menambah pengetahuan tentang bagaimana pelaksanaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
2.      Membantu dan mengarahkan masyarakat untuk memperoleh pendidikan.
3.      Menyadarkan masyarakat akan pentingnya pendidikan.
Tujuan pembuatan laporan ini untuk :
1.    Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengembangan Diri Orang Dewasa
2.    Mengetahui profil Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
3.    Mengetahui seperti apa pelaksanaan proses belajar mengajar paket B diPusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) 32 Negeri Duren Sawit
4.    Mengetahui unsur-unsur proses pendidikan di dalam Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
5.    Mengetahui seberapa besar masyarakat berpartisipasi dalam mendapatkan pendidikan melalui PKBM.



Rumusan Masalah:
1.      Bagaimana cara tutor dalam memotivasi peserta didik?
2.      Program apa yang dilakukan dalam meningkatkan kompetensi peserta didik?
3.      Apa saja program yang dibuat kepala lembaga dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik?
4.      Bagaimana upaya tutor dalam meningkatkan kemandirian peserta didik?
5.      Bagaimana cara tutor dalam meningkatkan kemampuan peserta didik dibidang non akademik?
6.      Apa saja kegiatan peningkatan kompetensi tutor yang diberikan pemerintah?
7.      Bagaimana upaya ketua lembaga dalam membentuk karakter peserta didik?
8.      Bagaimana cara peserta didik dalam meningkatkan hasil belajarnya?


C.     Bentuk Kegiatan
Dalam observasi ini bentuk kegiatan yang kami lakukan adalah silaturahmi dan wawancara dengan ketua lembaga dan warga belajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) 32 Negeri Duren  Sawit





BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.     KONSEP PENDIDIKAN NON FORMAL
Pendidikan merupakan kawasan dinamis yang menjadi perbincangan semua kalangan masyarakat. Hampir tidak ada orang yang mengatakan bahwa pendidikan tidak penting. Seorang presiden, gubernur, bupati, walikota, camat, kepala desa, sampai kepala rumah tangga dapat dipastikan memberikan perhatian pada pendidikan. Bahkan banyak kalangan yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan primer bagi setiap insan.
Tidak sulit mengatakan bahwa pendidikan berjalan sepanjang hayat. Atau menyatakan bahwa keluarga, masyarakat dan sekolah mempunyai tanggungjawab pendidikan yang oleh Ki Hajar Dewantara disebut sebagai Tripusat Pendidikan. Tapi pada kenyataannya, seperti hal kehidupan pada dipandang sebagai sekolah (pendidikan formal). Pendidikan non formal dan informal merupakan sesuatu diluar mainstream. Oleh karena itu, dinamika kesulitan mencari kesamaan makna istilah pendidikan memang bukan suatu rahasia lagi.
Memang nyata dengan mainstream pembangunan pendidikan yang hingga kini masih bertumpu pada sekolah (pendidikan formal), maka tidak bisa dimungkiri bahwa posisi pendidikan nonformal dan informal masih termajinalkan. Menurut pandangan konvensional pendidikan non formal apalagi informal kebanyakan tidak mengahasilkan credential atau sertifikat yang dianggap dapat mengangkat gengsi atau harkat dan martabat seseorang. Bahkan proses-proses yang terjadi di dalamnya memang tidak diwujudkan dalam ruang, waktu, dan kelengkapan-kelengkapan penunjang pembelajaran dan pendidikan dalam format yang terukur dan memenuhi standar yang menjadi harapan para penyusun standar.
Jika direnungkan, sebenarnya permajinalan terhadap pendidikan nonformal dan informal terjadi akibat hal yang bersifat artifisial. Karena secara susbstantif kita sulit membohongi diri sendiri bahwa sesungguhnya kemajuan yang dicapai dalam kehidupan kita justru banyak diperoleh dari pendidikan nonformal dan informal. Namun persoalannya kita kesulitan membuktikan ‘tanda kehadiran belajar’, ‘buku bahan ajar’,’tanda lulus’ dan sejenis sertifikat lainnya. Sehingga hasil belajar pendidikan non formal dan informal selalu diragukan dan sulit mendaat pengakuan.
Malcolm Knowles, ia kerap dijuluki sebagai ‘Rasul’ Andragogi. Dalam salah satu bukunya yang berjudul pedagogy versus andragogy, ia memberikan perhatian pada upaya mencari perbedaan-perbedaan antara edagogi yang terlegimitasi sebagai landasan kelimuan praktik pendidikan formal dimana sasarannya adalah ank-anak, dengan andragogy yang diklaim sebagai landasan keilmuan praktik pendidikan orang dewasa yang banyak diselenggarakan melalui pendidikan nonformal dan informal.
Sebagai telaah akademik, pemikiran dan kajian yang dilakukan Malcolm Knowles merupakan suatu motivasi untuk membangkitkan kekuatan pendidikan nonformal dan informal dalam tataran akademik maupun praktis. Menurut Ivan Ilich yang ditulisnya dalam Deschooling society. Keterbatasan proses pendidikan pada kelembagaan yang mapan (terutama sekolah) menjadi dasar gagasan Ivan Ilich untuk mencari pendidikan alternatif yang memungkinkan warga belajar daat memenuhi harapan dan kebutuhan belajarnya dengan akses sumber daya yang luas melalui kehidupan. Ivan Illich berpendapat bahwa belajar tidak boleh tersekat oleh ruang dan waktu, karena belajar bisa dilakukan di banyak tempat dan setiap saat.Salah satu fungsi PKBM adalah sebagai lembaga penyelenggara kegiatan pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat. Untuk itu pengelola PKBM dituntut untuk tanggap terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat terkait dengan kebutuhan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, karateristik dan potensi komunitas setempat.
Hal demikian memungkinkan lembaga PKBM tidak hanya diterima tetapi lebih mengakar di masyarakat. Meskipun pengelola dan penyelenggara PKBM adalah masyarakat, tetapi juga difasilitasi oleh pemerintah (Departemen Pendidikan Nasional, melalui Subdin Pendidikan Luar Sekolah) di tingkat Propinsi atau Kabupaten/Kota). Keikutsertaan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat memiliki kesempatan yang sangat luas. Sebagaimana yang telah diatur dalam Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 55 ayat (1) , bahwa ”Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial dan budaya untuk kepentingan masyarakat”. Pendekatan partisipatif memang sangat diperlukan bagi terwujudnya keberhasilan sebuah program pembangunan. Pada aras ini diperlukan kepedulian serta komitmen terhadap kembalinya komunitas sebagai pusat dan aktor baik dalam wacana maupun praksis pembangunan. Hal ini diperkuat adanya beberapa bukti empiris yang menujukkan bahwa sebuah desain kebijakan yang berbasis pada bottom-up ternyata lebih efektif dan memiliki kemampuan 3 untuk lebih sustainable serta berhasil guna bagi kepentingan komunitas, sedangkan pendekatan pembangunan yang berbasis pada top down cenderung merupakan representasi dari kepentingan dan visi penguasa ataupun para perencana pembangunan (Suparjan & Hempri Suyatno, 2003:69)
Sehubungan dengan partisipasi masyarakat yang di dalamya terdapat kepedulian dan komitmen, maka dalam konteks pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan hal yang sangat menarik untuk dikaji. Benarkah partisipasi tersebut tumbuh secara murni dari sekelompok orang yang peduli terhadap permasalahan di lingkungan sekitar? Ataukah partisipasi itu memang muncul karena ada ”proyek” dari pemerintah sehingga sekelompok orang tersebut berduyun – duyun mendirikan PKBM ? Pertanyaan lebih lanjut yang perlu dikaji adalah terkait dengan pengelolaan kelembagaan PKBM itu sendiri sehingga mampu memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat untuk mendapatkan akses pendidikan di jalur nonformal. Agar dalam penyelenggaraan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dapat berjalan secara efektif dan efisien, baik yang diselenggarakan pemerintah atau swadaya masyarakat, maka pemerintah tetap melakukan proses pembinaan dan pendampingan. Pendampingan tersebut selain diarahkan untuk mencapai penyelenggaraan yang efektif dan efisien, juga untuk menuju proses pemberdayaan penyelenggaraan pendidikan luar sekolah agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Pendampingan yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini adalah melalui penilik pendidikan luar sekolah di tingkat kecamatan dengan dibantu oleh tenaga lapangan pendidikan masyarakat (TLD). Perlunya pendampingan dalam penyelenggaraan PKBM jika didasarkan pada teori kebutuhan belajar orang dewasa adalah, bahwasanya kebutuhan yang paling mendasar adalah kebutuhan fisik (sandang, pangan, dan papan). Kebutuhan belajar/ pendidikan bagi orang dewasa (andragogi) harus terpenuhi manakalah kebutuhan fisiknya sudah dapat terpenuhi secara layak. Terkait dengan kebutuhan belajar orang dewasa, Mudjiman (2006 : 163), berpendapat bahwa terdapat 4 ( empat ) asumsi dalam teori andragogi, yaitu : 1. Bahwa orang dewasa mengarahkan tujuan belajarnya sendiri. 2. Bahwa pengetahuan yang telah dimiliki merupakan sumber belajar untuk pembelajaran selanjutnya. 3. Bahwa orang dewasa belajar setelah ia sendiri merasa ingin belajar; kegiatan belajar adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya – rumah, 4. Bahwa orang dewasa belajar karena mencari kompetensi untuk memenuhi kebutuhannya yang lebih tinggi, seperti kebutuhan pengembangan potensi diri; mereka ingin segera merasakan hasil dari belajarnya; apa yang dipelajari harus dapat digunakan.
Pendidikan Nonformal merupakan pendidikan yang teratur dengan sadar dilakukan tetapi tidak terlalu mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan ketat. Sifat-sifat pendidikan nonformal diantaranya:
1.      Pendidikan nonformal lebih fleksibel
Sifat fleksibel di atas dalam arti luas seperti tidak ada tuntutan syarat credential yang keras bagi anak didiknya, waktu penyelenggaraan disesuaikan dengan kesematan yang ada artinya dapat beberapa bulan, beberapa tahun atau beberapa hari saja.
2.      “Pendidikan non formal mungkin lebih efektif dan efisien untuk bidang-bidang pelajaran tertentu”. Bersifat efektif oleh karena “program pendidikan non formal bisa spesifik sesuai dengan kebutuhan dan tidak memerlukan syarat-syarat (guru, metode, fasilitas lain) secara ketat.
3.      Pendidikan non foral bersifat qiuck yielding artinya dalam waktu yang singkat dapat digunakan untuk melatih tenaga kerja yang dibutuhkan, terutama untuk memperoleh tenaga yang memiliki kecakapan.
4.      Pendidikan non formal sangat instrumental “artinya pendidikan yang bersangkutan bersifat luwes, mudah dan murah serta dapat menghasilkan dalam waktu yang relatif singkat.






Syarat- syarat Pendidikan Non Formal:
1.      Pendidikan non formal harus jelas tujuannya
Tujuan ini harus merupakan sesuatu yang dirasakan manfaatnya oleh peserta. Hal ini tentu saja tujuan mendapatkan dukungan dari nilai-nilai, aspirasi dan kebutuhan masyarakat sebagai peserta.
2.      Ditinjau dari segi masyarakat, program pendidikan non formal harus menarik (appealing) baik hasil yang akan dicapai maupun cara-cara melaksanakannya.
Appealing ini sangat diperlukan karena di dalam pendidikan non formal harus memperoleh dukungan daripada masyarakat serta partisipasi aktif masyarakat. Partisipasi masyarakat sangat diperlukan karena dalam pelaksanaan pendidikan non formal pun perlu pasilitas dan pembiayaan.
3.      Adanya integrasi pendidikan non formal dengan program-program pembangunan dalam masyarakat.
Pengalaman menunjukkan bahwa sesuatu program pendidikan tidak akan berhasil kalau tidak berkaitan dengan kegiatan bangunan di daerah yang bersangkutan. Oleh karena itu, sebelum diadakan perencanaan pendidikan non formal disusun, maka hendaknya program disusun.
4.      Organisasi kesenian, kursus-kursus kesenian, penataran pembinaan kesenian.
5.      Kegiatan lain-lain
·         Pembinaan pada nara pidana
·         Siaran pedesaan





B.      KONSEP PKBM
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan prakarsa pembelajaran masyarakat yang didirikan dari, oleh dan untuk masyarakat. PKBM adalah suatu institusi yang berbasis masyarakat (Community Based Institution). Terminologi PKBMdari masyarakat, berarti bahwa pendirian PKBM merupakan inisiatif dari masyarakat itu sendiri. Keinginan itu datang dari suatu kesadaran akan pentingnya peningkatan mutu kehidupan melalui suatu proses transformasional dan pembelajaran. Inisiatif ini dapat dihasilkan oleh suatu proses sosialisasi akan pentingnya PKBM sebagai wadah pemberdayaan masyarakat kepada beberapa anggota atau tokoh masyarakat setempat oleh pihak pemerintah ataupun oleh pihak lain di luar komunitas tersebut. Oleh masyarakat, berarti bahwa penyelenggaraan, pengembangan, dan keberlanjutan
PKBM sepenuhnya menjadi tanggung jawab masyarakat itu sendiri. Ini juga bermakna adanya semangat kebersamaan, kemandirian, dan kegotongroyongan dalam pengelolaan PKBM serta penyelenggaraan berbagai program pendidikan masyarakat pada lembaga tersebut.Untuk masyarakat, berarti bahwa keberadaan PKBM sepenuhnya untuk kemajuan dan keberdayaan kehidupan masyarakat tempat lembaga tersebut berada. Eksistensi lembaga didasarkan pada pemilihan program-program yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan atau pemberdayaan masyarakat. Hal ini tidak menutup kemungkinan anggota masyarakat di luar komunitas tersebut ikut serta dalam berbagai program dan kegiatan yang diselenggarakan oleh PKBM. Masyarakat bertindak sekaligus sebagai subjek dan objek dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh PKBM.

Komponen PKBM
a. Komunitas Binaan/Sasaran
Setiap PKBM memiliki komunitas yang menjadi tujuan atau sasaran pengembangannya. Komunitas ini dapat dibatasi oleh wilayah geografis tertentu ataupun komunitas dengan permasalahan dan kondisi sosial serta ekonomi tertentu.

b. Peserta Didik
Peserta didik adalah bagian dari komunitas binaan atau dari komunitas lainnya yang dengan kesadaran yang tinggi mengikuti satu atau lebih program pembelajaran yang ada di lembaga.
c. Pendidik/Tutor/Instruktur/Narasumber Teknis
Pendidik/tutor/instruktur/narasumber teknis adalah sebagian dari warga komunitas tersebut ataupun dari luar yang bertanggung jawab langsung atas proses pembelajaran atau pemberdayaan masyarakat di lembaga.
d. Penyelenggara dan Pengelola
Penyelenggara PKBM adalah sekelompok warga masyarakat setempat yang dipilih oleh komunitas yang mempunyai tanggung jawab atas perencanaan, pelaksanaan, dan pengembangan program di PKBM serta bertanggung jawab terhadap seluruh pelaksanaan program dan harta kekayaan lembaga. Pengelola program/kegiatan adalah mereka yang ditunjuk melaksanakan kegiatan teknis/operasional program tertentu yang ada di PKBM.
e. Mitra PKBM
Mitra PKBM adalah pihak-pihak dari luar komunitas maupun lembaga-lembaga yang memiliki agen atau perwakilan atau aktivitas atau kepentingan atau kegiatan dalam komunitas tersebut yang dengan suatu kesadaran dan kerelaan telah turut berpartisipasi dan berkontribusi bagi keberlangsungan dan pengembangan suatu PKBM.
C.     PROGRAM PAKET C
Program Paket C merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat usia sekolah dan usia dewasa yang karena berbagai keterbatasan tidak melanjutkan pendidikan formal. Paket C murni integrasi vokasi sistem terbuka adalah program pendidikan kesetaraan Paket C setara SMA yang mengintegrasikan pembelajaran akademik dan pembelajaran ketrampilan siap kerja dengan pola pembelajaran yang disesuaikan dengan potensi,
Karakteristik masing-masing warga belajar. Pada program Paket C juga terdapat pemberian materi yang disampaikan oleh tutor baik langsung atau menggunakan media pembelajaran. Media merupakan komponen masukan yang dapat membantu pelaksanaan proses pembelajaran pelatihan. Media pembelajaran dapat berupa sumber, alat, bahan yang di perlukan untuk kegiatan belajar ( Tri Joko Raharjo dalam Ashari Duri, 2005:12).





  
BAB III
METODE PENGUMPULAN DATA

A.     Wawancara
Wawancara dilakukan dengan tujuan menggali informasi mengenai sistem manajemen PNF di PKBM Negeri 32 Duren Sawit. Bersandar pada klasifikasi Patton (Moleong, 2008:187-188) bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Pertama, wawancara percakapan informal (the informal conversation interview), ialah wawancara yang sepenuhnya didasarkan pada susunan pertanyaan spontan ketika interaksi berlangsung khususnya pada proses observasi partisipatif di lapangan. Terkadang orang yang diwawancarai tidak diberitahu bahwa mereka sedang diwawancarai. Sehingga dalam hal ini peneliti bisa mendapatkan informasi yang apa adanya di lapangan
Kedua, wawancara terbuka yang baku (the standardized open-ended interview), meliputi seperangkat pertanyaan yang secara seksama disusun dengan maksud untuk menjaring informasi mengenai isu-isu yang sesuai dengan urutan dan kata-kata yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Jenis wawancara yang dijelaskan di atas digunakan oleh peneliti untuk memperoleh informasi dari subjek penelitian, sesuai dengan permasalahan yang dirumuskan. Seringkali peneliti sendiri melakukan intervensi dan mendesakkan pendapat para narasumber agar informasi yang diperoleh terjamin reliabilitasnya.

B.      Observasi
Observasi ini dilakukan untuk mendapatkan data dan fakta tentang sistem manajemen PNF di PKBM Negeri 32 Duren Sawit. Orientasinya menyangkut pengembangan materi, metode, media, dan semua fenomena aktivitas yang berkait dengan pembelajaran.






BAB IV
HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Profil Responden

Responden Pertama

Nama                           :           Drs. Gatot Sriwijatmiko
TTL                             :           Kebumen, 16 Maret 1967
Pendidikan Terakhir    :           S1
Jabatan                                    :           Kepala PKBM 32 Duren Sawit
Di PKBM Sejak          :           Oktober 2016 – Sekarang
NIP                             :           196703162011071001

Wawancara Kedua

Nama                           :           Luther J.R Hutasoit
TTL                             :           Jakarta, 10 Oktober 2002
Asal Sekolah               :           SMAN 30 Jakarta
Alasan                         :           Biar bisa membagi waktu, karena mengikuti 2 kegiatan.


Profil PKBM
Nama Lembaga                       :           PKBM Negeri 32 Duren Sawit
Nilem/NPSN                           :           31.2.05.4.1.:0004 / P2967199
Alamat Lembaga                     :           Jl. Madrasah II Cilungup Rt.10/12 Kel. Duren Sawit Kec.                                                                Duren Sawit Kota Adm. Jakarta Timur 13440
No.telp                                                :           08531189797/08159307667
Tahun Berdiri                          :           1977 (PLK) – 1999 (PKBMN)
Legalitas Lembaga                  :           1) SK Gubernur DKI Jakarta No.1.838.6 Tahun 1999
2) SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 1432 Tahun 2015

Visi
            Menjadi lembaga Pendidikan Non Formal yang berkualitas dan berstandar nasional sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang gemar belajar membaca, bekerja & berusaha, serta bertqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Misi
            Menyelenggarakan Pendidikan Non Formal guna menghasilkan lukisan yang berkualitas dan berdaya saing, Membantu masyarakat mengembangkan potensi SDM yang dimilik guna meningkatkan kehidupan.
            Membangun jaringan kemitraan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Melaksanakan dan mengembangkan program Pendidikan Non Formal secara transparan, efisien, efektif, terarah, dan terstruktur.

Tujuan
            Sebagai tempat memenuhi kebutuhan belajar masyarakat di Jakarta Timur, dan diluar DKI umumnya. Dapat menjadi tempat tujuan pembelajaran mengembangkan kemampuan dan potensi masyarakat dalam meningkatkan ekonomi, martabat dan taraf hidupnya.
            Dapat membantu peserta didik agar memiliki pengetahuan dan kemampuan keterampilan agar dapat bersaing di masyarakat.

Struktur Organisasi PKBM


, 



B.     Pembahasan
Teori motivasi Abraham Maslow (1943-1970) Abraham Maslow (1943-1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting.
a. Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
b. Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
 c. Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)
d. Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)
e. Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya).
PKBM Negeri 32 ini mempunyai cara yang tepat dalam memotivasi peserta didiknya. Dengan cara yang dilakukan oleh tokoh Pupuh Fathurohman dan M. Sobry Suntikno (2010).
Yaitu dengan cara:
1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik
Pada permulaan belajar mengajar, terlebih dahulu seorang guru menjelaskan tentang tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran kepada siswa. Makin jelas tujuan yang akan dicapai peserta didik maka makin besar juga motivasi dalam melaksanakan kegiatan belajar.
2. Memberikan hadiah (reward)
Memberikan hadiah kepada peserta didik yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat peserta didik untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, peserta didik yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar peserta didik yang berprestasi.
3. Memunculkan saingan atau kompetensi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara peserta didik untuk meningkatkan prestasi belajarnya, dan berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4. Memberikan pujian
Memberikan pujian atau penghargaan kepada peserta didik yang berprestasi sudah sepantasnya dilakukan oleh guru yang bersifat membangun.
5. Memberikan hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar peserta didik tersebut mau mengubah diri dan beruaha memacu motivasi belajarnya.
6. Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar
Kegiatan yang dilakukan guru adalah memberikan perhatian maksimal kepada peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.
7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik
Guru menanamkan pembiasaan belajar yang baik dengan disiplin yang terarah sehingga peserta didik dapat belajar dengan suasana yang kondusif.
8. Membantu kesulitan belajar peserta didik, baik secara individual maupun komunal (kelompok)
9. Menggunakan metode yang bervariasi
Dalam pembelajaran, metode konvensional harus sudah ditinggalkan guru karena peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda sehingga dibutuhkan metode yang tepat/bervariasi dalam memberdayakan kompetensi peserta didik.
10. Menggunakan media yang baik serta harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Penggunaan media yang tepat sangat membantu dan memotivasi peserta didik dalam memaknai pembelajaran sesuai tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Adanya media yang tepat akan mampu memediasi peserta didik yang memiliki kemampuan indera yang tidak sama, baik pendengaran maupun penglihatannya, demikian juga kemampuan berbicaranya. Dengan variasi penggunaan media, kelemahan indera yang dimiliki tiap peserta didik dapat dikurangi dan dapat memberikan stimulus terhadap indera peserta didik.

PKBM 32 ini terdapat program pengembangan diri dalam meningkatkan kompetensi peserta didiknya, selayaknya PKBM lain nya. Program pengembangan diri yang dilakukan adalah memotivasi anak didik  nya. Adanya motivasi akan dapat menguatkan ambisi, membantu mengerahkan energi dalam mencapai apa yang diinginkan serta meningkatkan inisiatif. Motivasi yang benar akan bisa membuat kita makin dekat dalam meraih tujuan kita.
Motivasi akan membuat seseorang dapat melangkah maju serta mengambil tindakan selanjutnya dalam merealisasikan apa yang jadi cita-citanya. Penting untuk memiliki motivasi dalam melakukan hal apapun, mulai dari karir, hubungan, pekerjaan, membeli sesuatu, spiritual, mengajar anak atau hal-hal lainnya. Motivasi akan muncul apabila kita telah memiliki visi jelas dari apa yang akan dilakukan, mengetahui hal apa yang hendak dilakukan serta percaya pada kekuatan diri sendiri. Semua ini adalah kunci sukses terhadap apapun yang dilakukan nantinya.
Ada banyak manfaat yang akan kita dapatkan setelah memahami lebih dalam terkait pengembangan diri serta motivasi ini. Pertama adalah melatih kemandirian, di mana pendekatan humanis dalam strategi pengembangan diri akan dapat memicu tiap orang dalam mengenal kepribadiannya sendiri secara lebih mendalam. Selain itu, kita juga dapat mengoptimalkan tiap kemampuan yang dimiliki diri sendiri. Kemampuan inilah yang akan terwujud dalam aktualisasi kemandirian.
Program yang dibuat oleh kepala lembaga dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik yaitu dengan cara membuat outing class. Outing class disini melibatkan semua guru yang ada di PKBM ini.
Outing class adalah sebuah proses pembelajaran yang dilakukan di luar kelas ataupun diluar sekolah, outing sendiri bertujuan untuk meningkatkan semangat belajar kepada siswa dan juga untuk memperluas pengetahuan mereka. Proses pembelajaran ini memang sangat efektif untuk menumbuhkan semangat belajar kepada siswa karena proses pembelajaran yang santai dan tidak terlalu kaku yang membuat siswa betah dengan konsep pembelajaran yang seperti itu.
            Upaya tutor dalam meningkatkan kemandirian para peserta didik yaitu dengan cara memberikan:
1.      Modul
Menurut Mulyasa (2004 : 43-45) modul  merupakan paket belajar mandiri yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang direncanakan serta dirancang secara sistematis untuk membantu siswa mencapai tujuan belajar.

Modul memiliki beberapa komponen yaitu :
(1) lembar kegiatan siswa , memuat pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa. Susunan materi sesuai  dengan tujuan instruksional yang akan dicapai, disusun langkah demi langkah sehingga mempermudah siswa belajar.,
(2) lembar kerja , menyertai lembaran kegiatan siswa yang dipakai untuk menjawab atau mengerjakan soal-soal tugas atau masalah-masalah yang harus dipecahkan,
(3) kunci lembar kerja siswa ,berfungsi untuk mengevaluasi atau mengoreksi sendiri hasil pekerjaan siswa.
(4) lembar soal, berisi soal-soal guna melihat keberhasilan siswa dalam mempelajari bahan yang disajikan dalam modul,
(5) kunci jawaban untuk lembar soal, merupakan alat koreksi terhadap penilaian yang dilaksanakan
oleh para siswa sendiri.



2.      Menggunakan E-Learning
 E-Learning memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran/perkuliahan di kelas. E-Learning sering pula dipahami sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet. Sebenarnya materi e-Learning tidak harus didistribusikan secara on-line baik melalui jaringan lokal maupun internet, distribusi secara off-line menggunakan media CD/DVD pun termasuk pola e-Learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar dikembangkan sesuai kebutuhan dan didistribusikan melalui media CD/DVD, selanjutnya pembelajar dapat memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di tempat di mana dia berada.
Manfaat E-Learning:
·         Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity).
·         Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).
·         Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience).
·         Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).

Dalam meningkatkan kemampuan non akademik peserta didik diantaranya yaitu:
1.      Ekstrakulikuler
Pengertian Ekstrakurikuler
Secara teori ekstrakulikuler membutuhkan semangat dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Pengertian ekstrakurikuler dapat ditemukan dalam panduan pengembangan diri yang diterbitkan oleh departemen Pendidikan Nasional. Ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar jam mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat,dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan disekolah/madrasah.

Untuk melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler, fungsi yang akan dicapai
adalah:
1) Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan potensi, bakat dan minat peserta didik.
2) Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggungjawab social peserta didik.
3 ) Persiapan karier,yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kesiapan karier peserta didik. Karena sasaran dari ekstrakurikuler adalah siswa.
Maka prinsip yang harus dikembangkan dalam ekstrakurikuler adalah:
a) Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikukler yang sesuai dengan potensi, bakat dan minat peserta didik secara individual.
b) Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yangsesuai dengan keinginan dan diikuti secara sukarela peserta didik.
c) Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler dalam suasana yang menggembirakan dan menimbulkan kepuasan peserta didik.
d) Etos kerja, prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang membangun
2.      Pentas Pendidikan
Pentas disebut juga pergelaran yaitu pertunjukan atau show dapat juga diartikan sebagai kegiatan mempertontonkan karya seni kepada orang lain. Kegiatan-kegiatan karya seni yang dimaksud bisa berupa seni music baik vokal maupun instrumental, seni tari dan seni teater. Dengan pementasan seni musik diharapkan masyarakat lebih mengerti apa saja program-program sekolah secara keseluruhan sehingga masyarakat tersebut akhirnya menilai bahwa lembaga pendidikan tersebut mampu menghadirkan program unggulannya. Dengan pementasan musik juga diharapkan seni yang dipentaskan dapat diketahui atau dikenal masyarakat. Pada cabang seni rupa, kegiatan mempertontonkan karya umumnya disebut pameran. Baik pameran maupun pementasan biasanya melibatkan beberapa kelompok atau grup seni. Dalam melibatkan banyak orang atau kelompok, maka persiapan dan perencanaan pementasan sangat penting demi suksesnya kegiatan. Ada 4 hal yang perlu dipersiapkan secara matang dalam pementasan, yaitu: (1). Menentukan tema (2). Menentukan rencana kegiatan (3). Menyusun program (4). Menentukan tempat. Menentukan jenis pementasan merupakan gagasan awal yang mendasari pelaksanaan sebuah pentas. Secara umum harus disesuaikan dengan tujuan dari pementasan itu sendiri.

Di PKBM ini pun terdapat kompetensi yang dilakukan untuk para tutor, tetapi diselenggarakan oleh pemerintah.
Diantaranya adalah:
1.      Workshop
Kata workshop berasal dari Bahasa Inggris yang apabila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti bengkel. Definisi workshop adalah sebuah kegiatan atau acara yang dilakukan, dimana beberapa orang yang memiliki keahlian di bidang tertentu berkumpul untuk membahas masalah tertentu dan mengajari para peserta. Workshop bisa juga diartikan sebagai latihan dimana peserta bekerja secara individu maupun secara kelompok untuk menyelesaikan pekerjaan yang berkaitan dengan tugas yang sebenarnya untuk mendapatkan pengalaman. Singkatnya, workshop merupakan gabungan antara teori dan praktek.
Di dalam sebuah workshop berkumpul sekelompok orang yang memiliki minat/perhatian dan keahlian yang sama di bidang tertentu, dimana mereka akan berkumpul dibawah arahan beberapa ahli untuk menggali satu atau beberapa aspek khusus suatu pembahasan masalah. Contoh workshop adalah workshop yang dilakukan suatu organisai/lembaga/instansi untuk peningkatan akreditasi badan usaha.
2.      Pelatihan
Program Pelatihan bagi Para Pendidik ini adalah program bantuan pelatihan bagi para pendidik, yaitu guru-guru, orang tua, terapis, dan pemerhati /penggiat pendidikan anak – untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam menangani permasalahan perkembangan dan belajar anak-anak berkebutuhan khusus.Pelatihan juga sifatnya praktikal, dimana fokusnya adalah skill-skill yang dibutuhkan seseorang dalam membantu, menangani anak-anak dengan kondisi kekhususan tertentu. Instruktur pelatihan juga merupakan para pakar yang memang bergelut di bidang ABK, dan juga menangani anak-anak berkebutuhan khusus.

Dalam pembentukan karakter yang terjadi di PKBM ini adalah mengidentifikasi terlebih dahulu para peserta didik, setelah itu para tutor memberikan sebuah masukan atau motivasi agar para peserta dapat berubah menjadi manusia yang terdidik. Karena pada prinsipnya ‘Manusia perlu dididik dan perlu mendidik diri’. Dapat ditemukan lima prinsip antropologis yang melandasi kemungkinan manusia akan dapat dididik, yaitu : (1) prinsip potensialitas, (2). prinsip dinamika, (3) prinsip individualitas, (4) prinsip sosialitas, dan (5) prinsip moralitas. 
Dari peserta didik yang telah saya wawancarai. Dia bernama Luther. Menurut dia cara yang paling efektif dalam meningkatkan hasil belajar nya adalah dengan cara focus terhadap satu tujuan yang ingin dicapai. Pikiran nya pun harus ber iringan dengan hatinya, tidak boleh ada yang tidak pas. Dia pun berkata bahwa belajar harus diiringi dengan doa,agar tuhan memberkati kita. Seperti itu menurut Luther. Salah satu peserta didik di PKBM Negeri 32 Duren Sawit.






BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
PKBM Negeri 32 ini sudah terbentuk dari tahun 1977, tetapi padatahun 1999 baru menjadi PKBM Negeri. PKBM bergerak dari tingkatan PAUD, sampai Pendidikan Paket C. PKBM ini mempunyai tempat yang layak untuk pendidikan, walau tenaga pendidik disana masih relative kurang, tidak sebanyak PKBM lain nya. Disini mempunyai kegiatan yang sangat mnenarik yaitu kegiatan Outing Class. Outing Class disini sangat menarik untuk diikuti para peserta didik, karena dapat membuat peserta didik tidak bosan yang hanya belajar dalam hal akademis saja. PKBM ini sudah bergerak kearah E-Learning karena disini terdapat fasilitas wifi yang dapat digunakan peserta didik untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan ketika pembelajaran.

B.     Saran
Untuk menyempurnakan laporan observasi ini saya sangat berharap adanya suatu kritik dan saran untuk kesempurnaan, dan saya mengucapkan banyak terimakasih dan mohon maaf bila ada kekurangan dari isi yang dibuat.
                  







Daftar Pustaka






DOKUMENTASI
                                                             


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar