LAPORAN
OBSERVASI
PENGEMBANGAN
DIRI ORANG DEWASA
PKBM NEGERI 32
DUREN SAWIT
Dosen Mata Kuliah:
Adi Irvansyah, M.Pd
Disusun Oleh :
Muhammad Rafly
104618009
Kelas A
PENDIDIKAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
Abstrak
Bentuk
penyelenggaraan pendidikan yang mengutamakan keikutsertaan masyarakat dan
dilandasi pemikiran bahwa masyarakat sebagai subyek dalam pengembangan
pendidikan salah satunya adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) atau
community learning center (CLC). PKBM dimaknai sebagai ” suatu tempat belajar
local (setempat) di luar sistem pendidikan formal, baik berada di perdesaan
maupun di tempat-tempat lain, biasanya dibangun dan dikelola oleh masyarakat
setempat untuk menyediakan berbagai kesempatan belajar bagi pembangunan
masyarakat dan peningkatan kualitas hidup (Unesco, 2008). Lahirnya lembaga PKBM
didasari oleh gagasan bahwa peningkatan kualitas kehidupan masyarakat baik
individu maupun kelompok, dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat dengan mengandalkan
kemampuan untuk mengelola berbagai potensi yang dimiliki masyarakat secara
mandiri, kreatif dan bermanfaat.
PKBM
diharapkan menjadi lembaga yang mampu memberikan layanan kepada masyarakat
untuk mengakses berbagai peluang yang ada di luar lingkungannya guna memenuhi
kebutuhan hidupnya. Peluang yang terdapat di masyarakat sangat beragam baik
bersifat memberikan keuntungan ekonomi, mengembangkan kemampuan berusaha,
mengembangkan kegiatan yang bersifat kesenangan maupun peluang guna memperoleh
pengembangan usaha dan peningkatan produk atau jasa yang dihasilkan. Dalam hal
ini, PKBM sebagai lembaga yang bergerak dalam pembangunan pendidikan memiliki
fungsi strategis yaitu berperan sebagai jembatan atau perantara antara
kepentingan individu atau kelompok sasaran dengan masyarakat yang membutuhkan
jasa atau produk dari PKBM.
Kata Pengantar
Rasa syukur yang dalam kami sampaikan kehadirat
Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai
dengan yang diharapkan. Saya juga bersyukur atas rizki dan kesehatan
yang telah diberikan oleh-Nya sehingga saya dapat menyusun
makalah ini.
Laporan ini disusun untuk diajukan sebagai
salah satu tugas mata kuliah “Pengembangan Diri Orang Dewasa”
Kami mengakui bahwa dalam menyusun makalah
ini tidak dapat diselesaikan tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Pada
kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada :
1. Drs. Gatot Sriwijatmiko. Selaku kepala lembaga PKBM
Negeri 32
2. Peserta
Didik PKBM Negeri 32
Saya menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat
dalam laporan hasil observasi ini. Untuk itu penulis sangat
mengharapkan adanya kritik dan saran dari semua
pihak. Semoga laporan ini memberikan informasi bagi pembaca dan
bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Daftar Isi
Abstrak.………………………………………………………………………2
Kata
Pengantar……………………………………………………………….3
BAB
I Pendahuluan
A.Latar
Belakang…………………………………………………………….5
B.Maksud
dan Tujuan………………………………………………………..6
C.
Bentuk Kegiatan…………………………………………………………..7
BAB
II Kajian Pustaka
A.Konsep
Pendidikan Non Formal…………………………………………..8
B.Konsep
PKBM……………………………………………………………13
C.Program
Paket C………………………………………………………….14
BAB
III Metode Pengumpulan Data
A.Wawancara…………………………………………………………….....16
B.Observasi………………………………………………………………....16
BAB
IV Hasil Kajian dan Pembahasan
A.Profil
Responden……………………………………………………........17
B.Pembahasan………………………………………………………………20
BAB
V Penutup
A.Kesimpulan………………………………………………………………28
B.Saran……………………………………………………………………...28
Daftar
Pustaka………………………………………………………...29
Dokumentasi………………………………………………………….30
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dewasa ini perkembangan dunia yang begitu pesat
menjadikan kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat. Namun, pada
kenyataannya masih banyak masyarakat yang masih belum mengenyam pendidikan
formalnya, entah hal tersebut dikarenakan rendahnya tingkat ekonomi masyarakat,
rendahnya tingkat kesadaran masyarakat akan pendidikan dan juga terjadinya
hal-hal insidental yang tidak diharapkan terjadi seperti hamil pranikah.
Kebutuhan akan pendidikan sangatlah penting diharapkan dengan adanya masyarakat
yang mengenyam pendidikan akan menjadikan suatu negera menjadi negara yang
lebih baik.
Pendidikan menurut Ibnu Khaldun (dalam
Ariyanto) adalahtransformasi nilai-nilai dari pengalaman untuk
mempertahankan eksistensi manusia dalam masyarakat yang berkebudayaan serta
zaman yang terus berkembang, maka pendidikan sebagai suatu proses untuk
mewujudkan suatu masyarakat yang berkebudayaan serta masyarakat yang
seutuhnya.Berdasarkan pemaparan Ibnu Khaldun yang mengartikan bahwa maju
mundurnya suatu bangsa
ditentukan oleh tingkat pendidikan masyarakat di suatu negara itu sendiri.
ditentukan oleh tingkat pendidikan masyarakat di suatu negara itu sendiri.
Dapat kita lihat berapa banyak angka putus sekolah
dari setiap jenjang pendidikan, baik dari jenjang pendidikan dasar maupun
menengah. Oleh karena itu untuk memaksimalkan pelayanan pendidikan untuk
masyarakat yang ada di Indonesia maka pelaksanaan pendidikan tidak hanya pada
pendidikan formal saja, melainkan pendidikan non formal dan informal.
Pendidikan Non formal itu sendiri menurut Undang-undang Sisdiknas tahun 2003
pasal 1 ayat 12 “Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar
pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang
sedangkan ayat 13 menyatakan “Pendidikan informal adalah jalur pendidikan
keluarga dan lingkungan. Berdasarkan Undang-undang Sistem Pendidikan
Nasional dikatakan bahwa fungsi PNF adalah mengembangkan potensi peserta didik
dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan ketrampilan fungsional serta
mengembangkan sikap dan kepribadian professional. Dengan kata lain Pendidikan
Non Formal merupakan sebuah pendidikan alternatif bagi mereka yang terkendala
dalam memperoleh pendidikan jalur formal. Hal ini sesuai dengan tujuan PLS
yang ada dalam PP 73 tahun 1991, yaitu membina warga belajar agar memiliki
pengetahuan, ketrampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan
diri, bekerja mencari nafkah atau melanjutkan ketingkat atau jenjang yang lebih
tinggi serta memenuhi kebutuhan belajar masyarakt yan tidak dapat dipenuhi
dalam jalur pendidikan sekolah.
B.
Maksud
dan Tujuan
Adapun
maksud dari observasi makalah ini adalah untuk:
1. Menambah
pengetahuan tentang bagaimana pelaksanaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat
(PKBM)
2. Membantu
dan mengarahkan masyarakat untuk memperoleh pendidikan.
3. Menyadarkan
masyarakat akan pentingnya pendidikan.
Tujuan
pembuatan laporan ini untuk :
1. Memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Pengembangan Diri Orang Dewasa
2. Mengetahui
profil Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
3. Mengetahui seperti
apa pelaksanaan proses belajar mengajar paket B diPusat Kegiatan
Belajar Masyarakat (PKBM) 32 Negeri Duren Sawit
4. Mengetahui
unsur-unsur proses pendidikan di dalam Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat
(PKBM).
5. Mengetahui
seberapa besar masyarakat berpartisipasi dalam mendapatkan pendidikan melalui
PKBM.
Rumusan
Masalah:
1.
Bagaimana cara
tutor dalam memotivasi peserta didik?
2.
Program apa yang
dilakukan dalam meningkatkan kompetensi peserta didik?
3.
Apa saja program
yang dibuat kepala lembaga dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik?
4.
Bagaimana upaya
tutor dalam meningkatkan kemandirian peserta didik?
5.
Bagaimana cara
tutor dalam meningkatkan kemampuan peserta didik dibidang non akademik?
6.
Apa saja
kegiatan peningkatan kompetensi tutor yang diberikan pemerintah?
7.
Bagaimana upaya
ketua lembaga dalam membentuk karakter peserta didik?
8.
Bagaimana cara
peserta didik dalam meningkatkan hasil belajarnya?
C.
Bentuk
Kegiatan
Dalam
observasi ini bentuk kegiatan yang kami lakukan adalah silaturahmi dan
wawancara dengan ketua lembaga dan warga belajar di Pusat Kegiatan Belajar
Masyarakat (PKBM) 32 Negeri Duren Sawit
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. KONSEP
PENDIDIKAN NON FORMAL
Pendidikan
merupakan kawasan dinamis yang menjadi perbincangan semua kalangan masyarakat.
Hampir tidak ada orang yang mengatakan bahwa pendidikan tidak penting. Seorang
presiden, gubernur, bupati, walikota, camat, kepala desa, sampai kepala rumah
tangga dapat dipastikan memberikan perhatian pada pendidikan. Bahkan banyak
kalangan yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan primer bagi
setiap insan.
Tidak sulit mengatakan
bahwa pendidikan berjalan sepanjang hayat. Atau menyatakan bahwa keluarga, masyarakat
dan sekolah mempunyai tanggungjawab pendidikan yang oleh Ki Hajar Dewantara
disebut sebagai Tripusat Pendidikan. Tapi pada kenyataannya, seperti hal
kehidupan pada dipandang sebagai sekolah (pendidikan formal). Pendidikan non
formal dan informal merupakan sesuatu diluar mainstream. Oleh karena
itu, dinamika kesulitan mencari kesamaan makna istilah pendidikan memang bukan
suatu rahasia lagi.
Memang nyata
dengan mainstream pembangunan pendidikan yang hingga kini masih
bertumpu pada sekolah (pendidikan formal), maka tidak bisa dimungkiri bahwa
posisi pendidikan nonformal dan informal masih termajinalkan. Menurut pandangan
konvensional pendidikan non formal apalagi informal kebanyakan tidak
mengahasilkan credential atau sertifikat yang dianggap dapat mengangkat
gengsi atau harkat dan martabat seseorang. Bahkan proses-proses yang terjadi di
dalamnya memang tidak diwujudkan dalam ruang, waktu, dan
kelengkapan-kelengkapan penunjang pembelajaran dan pendidikan dalam format yang
terukur dan memenuhi standar yang menjadi harapan para penyusun standar.
Jika direnungkan,
sebenarnya permajinalan terhadap pendidikan nonformal dan informal terjadi
akibat hal yang bersifat artifisial. Karena secara susbstantif kita sulit
membohongi diri sendiri bahwa sesungguhnya kemajuan yang dicapai dalam
kehidupan kita justru banyak diperoleh dari pendidikan nonformal dan informal.
Namun persoalannya kita kesulitan membuktikan ‘tanda kehadiran belajar’, ‘buku
bahan ajar’,’tanda lulus’ dan sejenis sertifikat lainnya. Sehingga hasil belajar
pendidikan non formal dan informal selalu diragukan dan sulit mendaat
pengakuan.
Malcolm Knowles, ia
kerap dijuluki sebagai ‘Rasul’ Andragogi. Dalam salah satu bukunya yang
berjudul pedagogy versus andragogy, ia memberikan perhatian pada upaya
mencari perbedaan-perbedaan antara edagogi yang terlegimitasi sebagai landasan
kelimuan praktik pendidikan formal dimana sasarannya adalah ank-anak, dengan
andragogy yang diklaim sebagai landasan keilmuan praktik pendidikan orang
dewasa yang banyak diselenggarakan melalui pendidikan nonformal dan informal.
Sebagai
telaah akademik, pemikiran dan kajian yang dilakukan Malcolm Knowles merupakan
suatu motivasi untuk membangkitkan kekuatan pendidikan nonformal dan informal
dalam tataran akademik maupun praktis. Menurut Ivan Ilich yang ditulisnya
dalam Deschooling society. Keterbatasan proses pendidikan pada
kelembagaan yang mapan (terutama sekolah) menjadi dasar gagasan Ivan Ilich
untuk mencari pendidikan alternatif yang memungkinkan warga belajar daat
memenuhi harapan dan kebutuhan belajarnya dengan akses sumber daya yang luas
melalui kehidupan. Ivan Illich berpendapat bahwa belajar tidak boleh tersekat
oleh ruang dan waktu, karena belajar bisa dilakukan di banyak tempat dan setiap
saat.Salah satu fungsi PKBM adalah sebagai lembaga penyelenggara kegiatan
pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat. Untuk itu pengelola PKBM dituntut
untuk tanggap terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat terkait dengan
kebutuhan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, karateristik dan potensi
komunitas setempat.
Hal
demikian memungkinkan lembaga PKBM tidak hanya diterima tetapi lebih mengakar
di masyarakat. Meskipun pengelola dan penyelenggara PKBM adalah masyarakat,
tetapi juga difasilitasi oleh pemerintah (Departemen Pendidikan Nasional,
melalui Subdin Pendidikan Luar Sekolah) di tingkat Propinsi atau
Kabupaten/Kota). Keikutsertaan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan
berbasis masyarakat memiliki kesempatan yang sangat luas. Sebagaimana yang
telah diatur dalam Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem
Pendidikan Nasional, pasal 55 ayat (1) , bahwa ”Masyarakat berhak
menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan
nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial dan budaya untuk
kepentingan masyarakat”. Pendekatan partisipatif memang sangat diperlukan bagi
terwujudnya keberhasilan sebuah program pembangunan. Pada aras ini diperlukan
kepedulian serta komitmen terhadap kembalinya komunitas sebagai pusat dan aktor
baik dalam wacana maupun praksis pembangunan. Hal ini diperkuat adanya beberapa
bukti empiris yang menujukkan bahwa sebuah desain kebijakan yang berbasis pada
bottom-up ternyata lebih efektif dan memiliki kemampuan 3 untuk lebih sustainable
serta berhasil guna bagi kepentingan komunitas, sedangkan pendekatan
pembangunan yang berbasis pada top down cenderung merupakan representasi dari
kepentingan dan visi penguasa ataupun para perencana pembangunan (Suparjan
& Hempri Suyatno, 2003:69)
Sehubungan
dengan partisipasi masyarakat yang di dalamya terdapat kepedulian dan komitmen,
maka dalam konteks pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan melalui Pusat
Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan hal yang sangat menarik untuk
dikaji. Benarkah partisipasi tersebut tumbuh secara murni dari sekelompok orang
yang peduli terhadap permasalahan di lingkungan sekitar? Ataukah partisipasi
itu memang muncul karena ada ”proyek” dari pemerintah sehingga sekelompok orang
tersebut berduyun – duyun mendirikan PKBM ? Pertanyaan lebih lanjut yang perlu
dikaji adalah terkait dengan pengelolaan kelembagaan PKBM itu sendiri sehingga
mampu memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat untuk mendapatkan akses
pendidikan di jalur nonformal. Agar dalam penyelenggaraan Pusat Kegiatan
Belajar Masyarakat dapat berjalan secara efektif dan efisien, baik yang
diselenggarakan pemerintah atau swadaya masyarakat, maka pemerintah tetap
melakukan proses pembinaan dan pendampingan. Pendampingan tersebut selain
diarahkan untuk mencapai penyelenggaraan yang efektif dan efisien, juga untuk
menuju proses pemberdayaan penyelenggaraan pendidikan luar sekolah agar tujuan
pendidikan dapat tercapai. Pendampingan yang dilakukan oleh pemerintah dalam
hal ini adalah melalui penilik pendidikan luar sekolah di tingkat kecamatan
dengan dibantu oleh tenaga lapangan pendidikan masyarakat (TLD). Perlunya
pendampingan dalam penyelenggaraan PKBM jika didasarkan pada teori kebutuhan
belajar orang dewasa adalah, bahwasanya kebutuhan yang paling mendasar adalah
kebutuhan fisik (sandang, pangan, dan papan). Kebutuhan belajar/ pendidikan
bagi orang dewasa (andragogi) harus terpenuhi manakalah kebutuhan fisiknya
sudah dapat terpenuhi secara layak. Terkait dengan kebutuhan belajar orang
dewasa, Mudjiman (2006 : 163), berpendapat bahwa terdapat 4 ( empat ) asumsi
dalam teori andragogi, yaitu : 1. Bahwa orang dewasa mengarahkan tujuan
belajarnya sendiri. 2. Bahwa pengetahuan yang telah dimiliki merupakan sumber
belajar untuk pembelajaran selanjutnya. 3. Bahwa orang dewasa belajar setelah
ia sendiri merasa ingin belajar; kegiatan belajar adalah untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya – rumah, 4. Bahwa orang dewasa belajar karena mencari
kompetensi untuk memenuhi kebutuhannya yang lebih tinggi, seperti kebutuhan pengembangan
potensi diri; mereka ingin segera merasakan hasil dari belajarnya; apa yang
dipelajari harus dapat digunakan.
Pendidikan Nonformal
merupakan pendidikan yang teratur dengan sadar dilakukan tetapi tidak terlalu
mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan ketat. Sifat-sifat pendidikan
nonformal diantaranya:
1. Pendidikan
nonformal lebih fleksibel
Sifat fleksibel di atas
dalam arti luas seperti tidak ada tuntutan syarat credential yang keras bagi
anak didiknya, waktu penyelenggaraan disesuaikan dengan kesematan yang ada
artinya dapat beberapa bulan, beberapa tahun atau beberapa hari saja.
2. “Pendidikan
non formal mungkin lebih efektif dan efisien untuk bidang-bidang pelajaran
tertentu”. Bersifat efektif oleh karena “program pendidikan non formal bisa
spesifik sesuai dengan kebutuhan dan tidak memerlukan syarat-syarat (guru,
metode, fasilitas lain) secara ketat.
3. Pendidikan
non foral bersifat qiuck yielding artinya dalam waktu yang singkat
dapat digunakan untuk melatih tenaga kerja yang dibutuhkan, terutama untuk
memperoleh tenaga yang memiliki kecakapan.
4. Pendidikan
non formal sangat instrumental “artinya pendidikan yang bersangkutan bersifat
luwes, mudah dan murah serta dapat menghasilkan dalam waktu yang relatif
singkat.
Syarat- syarat
Pendidikan Non Formal:
1. Pendidikan
non formal harus jelas tujuannya
Tujuan ini harus
merupakan sesuatu yang dirasakan manfaatnya oleh peserta. Hal ini tentu saja
tujuan mendapatkan dukungan dari nilai-nilai, aspirasi dan kebutuhan masyarakat
sebagai peserta.
2. Ditinjau
dari segi masyarakat, program pendidikan non formal harus
menarik (appealing) baik hasil yang akan dicapai maupun cara-cara
melaksanakannya.
Appealing ini
sangat diperlukan karena di dalam pendidikan non formal harus memperoleh
dukungan daripada masyarakat serta partisipasi aktif masyarakat. Partisipasi
masyarakat sangat diperlukan karena dalam pelaksanaan pendidikan non formal pun
perlu pasilitas dan pembiayaan.
3. Adanya
integrasi pendidikan non formal dengan program-program pembangunan dalam
masyarakat.
Pengalaman menunjukkan
bahwa sesuatu program pendidikan tidak akan berhasil kalau tidak berkaitan
dengan kegiatan bangunan di daerah yang bersangkutan. Oleh karena itu, sebelum
diadakan perencanaan pendidikan non formal disusun, maka hendaknya program
disusun.
4. Organisasi
kesenian, kursus-kursus kesenian, penataran pembinaan kesenian.
5. Kegiatan
lain-lain
· Pembinaan
pada nara pidana
· Siaran
pedesaan
B. KONSEP
PKBM
Pusat
Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan prakarsa pembelajaran masyarakat
yang didirikan dari, oleh dan untuk masyarakat. PKBM adalah suatu institusi
yang berbasis masyarakat (Community Based Institution). Terminologi PKBMdari
masyarakat, berarti bahwa pendirian PKBM merupakan inisiatif dari
masyarakat itu sendiri. Keinginan itu datang dari suatu kesadaran akan
pentingnya peningkatan mutu kehidupan melalui suatu proses transformasional dan
pembelajaran. Inisiatif ini dapat dihasilkan oleh suatu proses sosialisasi akan
pentingnya PKBM sebagai wadah pemberdayaan masyarakat kepada beberapa anggota
atau tokoh masyarakat setempat oleh pihak pemerintah ataupun oleh pihak lain di
luar komunitas tersebut. Oleh masyarakat, berarti bahwa
penyelenggaraan, pengembangan, dan keberlanjutan
PKBM
sepenuhnya menjadi tanggung jawab masyarakat itu sendiri. Ini juga bermakna
adanya semangat kebersamaan, kemandirian, dan kegotongroyongan dalam
pengelolaan PKBM serta penyelenggaraan berbagai program pendidikan masyarakat
pada lembaga tersebut.Untuk masyarakat, berarti bahwa keberadaan PKBM
sepenuhnya untuk kemajuan dan keberdayaan kehidupan masyarakat tempat lembaga
tersebut berada. Eksistensi lembaga didasarkan pada pemilihan program-program
yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan atau pemberdayaan masyarakat. Hal ini
tidak menutup kemungkinan anggota masyarakat di luar komunitas tersebut ikut
serta dalam berbagai program dan kegiatan yang diselenggarakan oleh PKBM.
Masyarakat bertindak sekaligus sebagai subjek dan objek dalam berbagai kegiatan
yang diselenggarakan oleh PKBM.
Komponen
PKBM
a. Komunitas
Binaan/Sasaran
Setiap PKBM memiliki
komunitas yang menjadi tujuan atau sasaran pengembangannya. Komunitas ini dapat
dibatasi oleh wilayah geografis tertentu ataupun komunitas dengan permasalahan
dan kondisi sosial serta ekonomi tertentu.
b. Peserta Didik
Peserta didik adalah
bagian dari komunitas binaan atau dari komunitas lainnya yang dengan kesadaran
yang tinggi mengikuti satu atau lebih program pembelajaran yang ada di lembaga.
c. Pendidik/Tutor/Instruktur/Narasumber
Teknis
Pendidik/tutor/instruktur/narasumber
teknis adalah sebagian dari warga komunitas tersebut ataupun dari luar yang
bertanggung jawab langsung atas proses pembelajaran atau pemberdayaan
masyarakat di lembaga.
d. Penyelenggara dan
Pengelola
Penyelenggara PKBM
adalah sekelompok warga masyarakat setempat yang dipilih oleh komunitas yang
mempunyai tanggung jawab atas perencanaan, pelaksanaan, dan pengembangan
program di PKBM serta bertanggung jawab terhadap seluruh pelaksanaan program
dan harta kekayaan lembaga. Pengelola program/kegiatan adalah mereka yang
ditunjuk melaksanakan kegiatan teknis/operasional program tertentu yang ada di
PKBM.
e. Mitra PKBM
Mitra PKBM adalah
pihak-pihak dari luar komunitas maupun lembaga-lembaga yang memiliki agen atau
perwakilan atau aktivitas atau kepentingan atau kegiatan dalam komunitas
tersebut yang dengan suatu kesadaran dan kerelaan telah turut berpartisipasi
dan berkontribusi bagi keberlangsungan dan pengembangan suatu PKBM.
C. PROGRAM
PAKET C
Program
Paket C merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk
memberikan kesempatan kepada masyarakat usia sekolah dan usia dewasa yang
karena berbagai keterbatasan tidak melanjutkan pendidikan formal. Paket C murni
integrasi vokasi sistem terbuka adalah program pendidikan kesetaraan Paket C
setara SMA yang mengintegrasikan pembelajaran akademik dan pembelajaran
ketrampilan siap kerja dengan pola pembelajaran yang disesuaikan dengan
potensi,
Karakteristik
masing-masing warga belajar. Pada program Paket C juga terdapat pemberian
materi yang disampaikan oleh tutor baik langsung atau menggunakan media
pembelajaran. Media merupakan komponen masukan yang dapat membantu pelaksanaan
proses pembelajaran pelatihan. Media pembelajaran dapat berupa sumber, alat,
bahan yang di perlukan untuk kegiatan belajar ( Tri Joko Raharjo dalam Ashari
Duri, 2005:12).
BAB III
METODE PENGUMPULAN DATA
A. Wawancara
Wawancara dilakukan
dengan tujuan menggali informasi mengenai sistem manajemen PNF di PKBM
Negeri 32 Duren Sawit. Bersandar pada klasifikasi Patton (Moleong,
2008:187-188) bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
Pertama,
wawancara percakapan informal (the informal conversation interview), ialah
wawancara yang sepenuhnya didasarkan pada susunan pertanyaan spontan ketika
interaksi berlangsung khususnya pada proses observasi partisipatif di lapangan.
Terkadang orang yang diwawancarai tidak diberitahu bahwa mereka sedang
diwawancarai. Sehingga dalam hal ini peneliti bisa mendapatkan informasi
yang apa adanya di lapangan
Kedua,
wawancara terbuka yang baku (the standardized open-ended interview), meliputi
seperangkat pertanyaan yang secara seksama disusun dengan maksud untuk
menjaring informasi mengenai isu-isu yang sesuai dengan urutan dan kata-kata
yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Jenis wawancara yang dijelaskan di atas
digunakan oleh peneliti untuk memperoleh informasi dari subjek penelitian,
sesuai dengan permasalahan yang dirumuskan. Seringkali peneliti sendiri
melakukan intervensi dan mendesakkan pendapat para narasumber agar informasi
yang diperoleh terjamin reliabilitasnya.
B. Observasi
Observasi
ini dilakukan untuk mendapatkan data dan fakta tentang sistem manajemen
PNF di PKBM Negeri 32 Duren Sawit. Orientasinya menyangkut pengembangan materi,
metode, media, dan semua fenomena aktivitas yang berkait dengan pembelajaran.
BAB IV
HASIL KAJIAN DAN
PEMBAHASAN
A.
Profil Responden
Responden
Pertama
Nama : Drs. Gatot Sriwijatmiko
TTL : Kebumen, 16 Maret 1967
Pendidikan
Terakhir : S1
Jabatan : Kepala PKBM 32 Duren Sawit
Di
PKBM Sejak : Oktober 2016 – Sekarang
NIP : 196703162011071001
Wawancara
Kedua
Nama : Luther J.R Hutasoit
TTL : Jakarta, 10 Oktober 2002
Asal
Sekolah : SMAN 30 Jakarta
Alasan : Biar bisa membagi waktu, karena
mengikuti 2 kegiatan.
Profil
PKBM
Nama
Lembaga : PKBM Negeri 32 Duren Sawit
Nilem/NPSN : 31.2.05.4.1.:0004 / P2967199
Alamat
Lembaga : Jl. Madrasah II Cilungup Rt.10/12
Kel. Duren Sawit Kec. Duren Sawit Kota Adm. Jakarta Timur 13440
No.telp : 08531189797/08159307667
Tahun
Berdiri : 1977 (PLK) – 1999 (PKBMN)
Legalitas
Lembaga : 1) SK Gubernur DKI Jakarta No.1.838.6
Tahun 1999
2) SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 1432 Tahun
2015
Visi
Menjadi lembaga Pendidikan Non
Formal yang berkualitas dan berstandar nasional sehingga dapat mewujudkan
masyarakat yang gemar belajar membaca, bekerja & berusaha, serta bertqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Misi
Menyelenggarakan Pendidikan Non
Formal guna menghasilkan lukisan yang berkualitas dan berdaya saing, Membantu
masyarakat mengembangkan potensi SDM yang dimilik guna meningkatkan kehidupan.
Membangun jaringan kemitraan dan
meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Melaksanakan dan mengembangkan
program Pendidikan Non Formal secara transparan, efisien, efektif, terarah, dan
terstruktur.
Tujuan
Sebagai tempat memenuhi kebutuhan
belajar masyarakat di Jakarta Timur, dan diluar DKI umumnya. Dapat menjadi
tempat tujuan pembelajaran mengembangkan kemampuan dan potensi masyarakat dalam
meningkatkan ekonomi, martabat dan taraf hidupnya.
Dapat membantu peserta didik agar
memiliki pengetahuan dan kemampuan keterampilan agar dapat bersaing di
masyarakat.
Struktur
Organisasi PKBM
,
B.
Pembahasan
Teori motivasi Abraham Maslow (1943-1970) Abraham
Maslow (1943-1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki
kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid,
orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu
dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan
biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan
penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling
tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya
menjadi penentu tindakan yang penting.
a. Kebutuhan fisiologis (rasa
lapar, rasa haus, dan sebagainya)
b. Kebutuhan rasa aman (merasa
aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
c. Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki
(berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)
d. Kebutuhan akan penghargaan
(berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)
e. Kebutuhan aktualisasi diri
(kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi; kebutuhan estetik:
keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan
kepuasan diri dan menyadari potensinya).
PKBM Negeri 32 ini mempunyai cara yang tepat dalam
memotivasi peserta didiknya. Dengan cara yang dilakukan oleh tokoh Pupuh
Fathurohman dan M. Sobry Suntikno (2010).
Yaitu dengan cara:
1. Menjelaskan tujuan
belajar ke peserta didik
Pada
permulaan belajar mengajar, terlebih dahulu seorang guru menjelaskan tentang
tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran kepada siswa. Makin jelas
tujuan yang akan dicapai peserta didik maka makin besar juga motivasi dalam
melaksanakan kegiatan belajar.
2. Memberikan hadiah (reward)
Memberikan
hadiah kepada peserta didik yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat
peserta didik untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, peserta didik
yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar peserta didik yang
berprestasi.
3. Memunculkan saingan atau
kompetensi
Guru
berusaha mengadakan persaingan di antara peserta didik untuk meningkatkan
prestasi belajarnya, dan berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai
sebelumnya.
4. Memberikan pujian
Memberikan
pujian atau penghargaan kepada peserta didik yang berprestasi sudah sepantasnya
dilakukan oleh guru yang bersifat membangun.
5. Memberikan hukuman
Hukuman
diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar
mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar peserta didik tersebut
mau mengubah diri dan beruaha memacu motivasi belajarnya.
6. Membangkitkan dorongan
kepada peserta didik untuk belajar
Kegiatan
yang dilakukan guru adalah memberikan perhatian maksimal kepada peserta didik
selama proses pembelajaran berlangsung.
7. Membentuk kebiasaan
belajar yang baik
Guru
menanamkan pembiasaan belajar yang baik dengan disiplin yang terarah sehingga
peserta didik dapat belajar dengan suasana yang kondusif.
8. Membantu kesulitan
belajar peserta didik, baik secara individual maupun komunal (kelompok)
9. Menggunakan metode yang bervariasi
Dalam
pembelajaran, metode konvensional harus sudah ditinggalkan guru karena
peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda sehingga dibutuhkan metode
yang tepat/bervariasi dalam memberdayakan kompetensi peserta didik.
10. Menggunakan media yang baik serta harus sesuai dengan tujuan
pembelajaran.
Penggunaan
media yang tepat sangat membantu dan memotivasi peserta didik dalam memaknai
pembelajaran sesuai tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Adanya media yang
tepat akan mampu memediasi peserta didik yang memiliki kemampuan indera yang
tidak sama, baik pendengaran maupun penglihatannya, demikian juga kemampuan
berbicaranya. Dengan variasi penggunaan media, kelemahan indera yang dimiliki
tiap peserta didik dapat dikurangi dan dapat memberikan stimulus terhadap
indera peserta didik.
PKBM 32 ini terdapat program
pengembangan diri dalam meningkatkan kompetensi peserta didiknya, selayaknya
PKBM lain nya. Program pengembangan diri yang dilakukan adalah memotivasi anak
didik nya. Adanya motivasi akan dapat
menguatkan ambisi, membantu mengerahkan energi dalam mencapai apa yang
diinginkan serta meningkatkan inisiatif. Motivasi yang benar akan bisa membuat
kita makin dekat dalam meraih tujuan kita.
Motivasi akan membuat seseorang dapat
melangkah maju serta mengambil tindakan selanjutnya dalam merealisasikan apa
yang jadi cita-citanya. Penting untuk memiliki motivasi dalam melakukan hal
apapun, mulai dari karir, hubungan, pekerjaan, membeli sesuatu, spiritual,
mengajar anak atau hal-hal lainnya. Motivasi akan muncul apabila kita telah
memiliki visi jelas dari apa yang akan dilakukan, mengetahui hal apa yang
hendak dilakukan serta percaya pada kekuatan diri sendiri. Semua ini adalah
kunci sukses terhadap apapun yang dilakukan nantinya.
Ada banyak manfaat yang akan kita dapatkan setelah memahami lebih dalam
terkait pengembangan diri serta motivasi ini. Pertama adalah melatih
kemandirian, di mana pendekatan humanis dalam strategi pengembangan diri akan
dapat memicu tiap orang dalam mengenal kepribadiannya sendiri secara lebih
mendalam. Selain itu, kita juga dapat mengoptimalkan tiap kemampuan yang
dimiliki diri sendiri. Kemampuan inilah yang akan terwujud dalam aktualisasi
kemandirian.
Program yang dibuat oleh kepala
lembaga dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik yaitu dengan cara
membuat outing class. Outing class disini melibatkan semua guru yang ada di
PKBM ini.
Outing class adalah
sebuah proses pembelajaran yang dilakukan di luar kelas ataupun diluar sekolah,
outing sendiri bertujuan untuk meningkatkan semangat belajar kepada siswa dan
juga untuk memperluas pengetahuan mereka. Proses pembelajaran ini memang sangat
efektif untuk menumbuhkan semangat belajar kepada siswa karena proses
pembelajaran yang santai dan tidak terlalu kaku yang membuat siswa betah dengan
konsep pembelajaran yang seperti itu.
Upaya tutor dalam meningkatkan kemandirian para peserta
didik yaitu dengan cara memberikan:
1.
Modul
Menurut
Mulyasa (2004 : 43-45) modul merupakan
paket belajar mandiri yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang
direncanakan serta dirancang secara sistematis untuk membantu siswa mencapai
tujuan belajar.
Modul
memiliki beberapa komponen yaitu :
(1)
lembar kegiatan siswa , memuat pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa.
Susunan materi sesuai dengan tujuan
instruksional yang akan dicapai, disusun langkah demi langkah sehingga
mempermudah siswa belajar.,
(2)
lembar kerja , menyertai lembaran kegiatan siswa yang dipakai untuk menjawab
atau mengerjakan soal-soal tugas atau masalah-masalah yang harus dipecahkan,
(3)
kunci lembar kerja siswa ,berfungsi untuk mengevaluasi atau mengoreksi sendiri
hasil pekerjaan siswa.
(4)
lembar soal, berisi soal-soal guna melihat keberhasilan siswa dalam mempelajari
bahan yang disajikan dalam modul,
(5)
kunci jawaban untuk lembar soal, merupakan alat koreksi terhadap penilaian yang
dilaksanakan
oleh
para siswa sendiri.
2. Menggunakan E-Learning
E-Learning memungkinkan pembelajar untuk belajar
melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi
mengikuti pelajaran/perkuliahan di kelas. E-Learning sering pula
dipahami sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari
intranet di jaringan lokal atau internet. Sebenarnya
materi e-Learning tidak harus didistribusikan
secara on-line baik melalui jaringan lokal maupun internet,
distribusi secara off-line menggunakan media CD/DVD pun termasuk pola
e-Learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar dikembangkan sesuai
kebutuhan dan didistribusikan melalui media CD/DVD, selanjutnya pembelajar
dapat memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di tempat di mana dia berada.
Manfaat E-Learning:
·
Meningkatkan
kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur
(enhance interactivity).
·
Memungkinkan
terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place
flexibility).
·
Menjangkau
peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience).
·
Mempermudah penyempurnaan
dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as
archivable capabilities).
Dalam
meningkatkan kemampuan non akademik peserta didik diantaranya yaitu:
1. Ekstrakulikuler
Pengertian
Ekstrakurikuler
Secara teori ekstrakulikuler membutuhkan semangat
dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Pengertian ekstrakurikuler dapat ditemukan
dalam panduan pengembangan diri yang diterbitkan oleh departemen Pendidikan
Nasional. Ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar jam mata pelajaran
untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi,
bakat,dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh
pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan
disekolah/madrasah.
Untuk melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler, fungsi
yang akan dicapai
adalah:
1) Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra
kurikuler untuk mengembangkan potensi, bakat dan minat peserta didik.
2) Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler
untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggungjawab social peserta didik.
3 ) Persiapan karier,yaitu fungsi kegiatan ekstra
kurikuler untuk mengembangkan kesiapan karier peserta didik. Karena sasaran
dari ekstrakurikuler adalah siswa.
Maka prinsip yang harus dikembangkan dalam
ekstrakurikuler adalah:
a) Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstra
kurikukler yang sesuai dengan potensi, bakat dan minat peserta didik secara
individual.
b) Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler
yangsesuai dengan keinginan dan diikuti secara sukarela peserta didik.
c) Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstra
kurikuler dalam suasana yang menggembirakan dan menimbulkan kepuasan peserta
didik.
d) Etos kerja, prinsip kegiatan ekstra kurikuler
yang membangun
2. Pentas Pendidikan
Pentas disebut juga pergelaran yaitu pertunjukan
atau show dapat juga diartikan sebagai kegiatan mempertontonkan karya seni
kepada orang lain. Kegiatan-kegiatan karya seni yang dimaksud bisa berupa seni
music baik vokal maupun instrumental, seni tari dan seni teater. Dengan
pementasan seni musik diharapkan masyarakat lebih mengerti apa saja
program-program sekolah secara keseluruhan sehingga masyarakat tersebut
akhirnya menilai bahwa lembaga pendidikan tersebut mampu menghadirkan program
unggulannya. Dengan pementasan musik juga diharapkan seni yang dipentaskan
dapat diketahui atau dikenal masyarakat. Pada cabang seni rupa, kegiatan
mempertontonkan karya umumnya disebut pameran. Baik pameran maupun pementasan
biasanya melibatkan beberapa kelompok atau grup seni. Dalam melibatkan banyak
orang atau kelompok, maka persiapan dan perencanaan pementasan sangat penting
demi suksesnya kegiatan. Ada 4 hal yang perlu dipersiapkan secara matang dalam
pementasan, yaitu: (1). Menentukan tema (2). Menentukan rencana kegiatan (3).
Menyusun program (4). Menentukan tempat. Menentukan jenis pementasan merupakan
gagasan awal yang mendasari pelaksanaan sebuah pentas. Secara umum harus
disesuaikan dengan tujuan dari pementasan itu sendiri.
Di
PKBM ini pun terdapat kompetensi yang dilakukan untuk para tutor, tetapi
diselenggarakan oleh pemerintah.
Diantaranya
adalah:
1. Workshop
Kata workshop berasal dari Bahasa Inggris yang
apabila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti bengkel. Definisi workshop adalah
sebuah kegiatan atau acara yang dilakukan, dimana beberapa orang yang memiliki
keahlian di bidang tertentu berkumpul untuk membahas masalah tertentu dan
mengajari para peserta. Workshop bisa juga diartikan sebagai
latihan dimana peserta bekerja secara individu maupun secara kelompok untuk
menyelesaikan pekerjaan yang berkaitan dengan tugas yang sebenarnya untuk
mendapatkan pengalaman. Singkatnya, workshop merupakan
gabungan antara teori dan praktek.
Di dalam sebuah workshop berkumpul sekelompok
orang yang memiliki minat/perhatian dan keahlian yang sama di bidang tertentu,
dimana mereka akan berkumpul dibawah arahan beberapa ahli untuk menggali satu
atau beberapa aspek khusus suatu pembahasan masalah. Contoh workshop adalah workshop yang
dilakukan suatu organisai/lembaga/instansi untuk peningkatan akreditasi badan
usaha.
2.
Pelatihan
Program
Pelatihan bagi Para Pendidik ini adalah program bantuan pelatihan bagi para
pendidik, yaitu guru-guru, orang tua, terapis, dan pemerhati /penggiat
pendidikan anak – untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam
menangani permasalahan perkembangan dan belajar anak-anak berkebutuhan
khusus.Pelatihan juga sifatnya praktikal, dimana fokusnya adalah skill-skill
yang dibutuhkan seseorang dalam membantu, menangani anak-anak dengan kondisi
kekhususan tertentu. Instruktur pelatihan juga merupakan para pakar yang memang
bergelut di bidang ABK, dan juga menangani anak-anak berkebutuhan khusus.
Dalam
pembentukan karakter yang terjadi di PKBM ini adalah mengidentifikasi terlebih
dahulu para peserta didik, setelah itu para tutor memberikan sebuah masukan
atau motivasi agar para peserta dapat berubah menjadi manusia yang terdidik.
Karena pada prinsipnya ‘Manusia perlu dididik dan perlu mendidik diri’. Dapat ditemukan lima prinsip antropologis
yang melandasi kemungkinan manusia akan dapat dididik, yaitu : (1) prinsip
potensialitas, (2). prinsip dinamika, (3) prinsip individualitas, (4)
prinsip sosialitas, dan (5) prinsip moralitas.
Dari peserta didik yang telah saya wawancarai.
Dia bernama Luther. Menurut dia cara yang paling efektif dalam meningkatkan
hasil belajar nya adalah dengan cara focus terhadap satu tujuan yang ingin
dicapai. Pikiran nya pun harus ber iringan dengan hatinya, tidak boleh ada yang
tidak pas. Dia pun berkata bahwa belajar harus diiringi dengan doa,agar tuhan
memberkati kita. Seperti itu menurut Luther. Salah satu peserta didik di PKBM
Negeri 32 Duren Sawit.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
PKBM Negeri 32 ini sudah terbentuk dari tahun
1977, tetapi padatahun 1999 baru menjadi PKBM Negeri. PKBM bergerak dari
tingkatan PAUD, sampai Pendidikan Paket C. PKBM ini mempunyai tempat yang layak
untuk pendidikan, walau tenaga pendidik disana masih relative kurang, tidak
sebanyak PKBM lain nya. Disini mempunyai kegiatan yang sangat mnenarik yaitu
kegiatan Outing Class. Outing Class disini sangat menarik untuk diikuti para
peserta didik, karena dapat membuat peserta didik tidak bosan yang hanya
belajar dalam hal akademis saja. PKBM ini sudah bergerak kearah E-Learning
karena disini terdapat fasilitas wifi yang dapat digunakan peserta didik untuk
memperoleh informasi yang dibutuhkan ketika pembelajaran.
B. Saran
Untuk menyempurnakan laporan observasi ini saya sangat berharap adanya suatu kritik dan saran
untuk kesempurnaan, dan saya mengucapkan banyak terimakasih dan mohon maaf bila
ada kekurangan dari isi yang dibuat.
Daftar
Pustaka







